Kegiatan Literasi siswa siswi SMAN 21

Tujuan dan Prinsip-prinsip pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SMA Negeri 21 Batam merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajar yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik.

  • Tujuan Umum

Menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah yang diwujudkan dalam gerakan literasi sekolah agar menjadi pembelajar sepanjang hayat.

  • Tujuan Khusus
  1. Menumbuhkembangkan budi pekerti
  2. Membangun ekosistem literasi sekolah.
  3. Menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran (learning organization) (Senge, 1990).
  4. Mempraktikkan kegiatan pengelolaan pengetahuan (knowledge management).
  5. Menjaga keberlanjutan budaya literasi.

 

Sasaran Gerakan Literasi Sekolah

  • Ekosistem sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

Prinsip-prinsip PelaksanaanGerakan Literasi Sekolah

 

Sahabat dunia Pendidikan, Menurut Beers (2009), praktik-praktik yang baik dalam gerakan literasi sekolah menekankan prinsip-prinsip sebagai berikut:

 

Perkembangan literasi berjalan sesuai tahap perkembangan yang bisa diprediksi.

Program literasi yang baik bersifat berimbang

Sekolah yang menerapkan program literasi berimbang menyadari bahwa tiap peserta didik memiliki kebutuhan yang berbeda satu sama lain. Dengan demikian, diperlukan berbagai strategi membaca dan jenis teks yang bervariasi pula.

 

Program literasi berlangsung di semua area kurikulum

Pembiasaan dan pembelajaran literasi di sekolah adalah tanggung jawab semua guru di semua mata pelajaran. Pembelajaran di mata pelajaran apapun membutuhkan bahasa, terutama membaca dan menulis. Dengan demikian, pengembangan  profesional guru dalam hal literasi perlu diberikan kepada guru semua mata pelajaran.

 

Tidak ada istilah terlalu banyak untuk membaca dan menulis yang bermakna

Kegiatan membaca dan menulis di kelas perlu dilakukan kapan pun kondisi di kelas memungkinkan. Untuk itu, perlu ditekankan bentuk kegiatan yang bermakna dan kontekstual. Misalnya, ‘menulis surat untuk wali kota’ atau ‘membaca untuk ibu’ adalah contoh-contoh kegiatan yang bermakna dan memberikan kesan kuat kepada peserta didik.

 

Diskusi dan strategi bahasa lisan sangat penting

Kelas berbasis literasi yang kuat akan melakukan berbagai kegiatan lisan berupa diskusi tentang buku selama pembelajaran di kelas. Kegiatan diskusi ini juga harus membuka kemungkinan untuk perbedaan pendapat agar kemampuan berpikir kritis dapat diasah. Peserta didik perlu belajar untuk menyampaikan perasaan dan pendapatnya, saling mendengarkan, dan menghormati perbedaan pandangan satu sama lain.

 

Keberagaman perlu dirayakan di kelas dan sekolah

Penting bagi pendidik untuk tidak hanya menerima perbedaan, namun juga merayakannya melalui agenda literasi di sekolah. Buku-buku yang disediakan untuk bahan bacaan peserta didik perlu merefleksikan kekayaan budaya Indonesia agar peserta didik dapat terpajan pada pengalaman multicultural sebanyak mungkin.

(imn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Telepon Kami